MAMBAHAS SHOLAT LAIL/SHOLAT MALAM TUNTAS LENGKAP DENGAN DALIL DALILNYA
MAMBAHAS SHOLAT LAIL/SHOLAT MALAM TUNTAS LENGKAP DENGAN DALIL DALILNYA
Kemarin Kita sudah membahas Tentang Pembahasan Puasa Ramadhan Secara Lengkap kali ini ijinkan kami membahas tentang sholat malam / Sholat Lail.
Pengertian Sholat Lail
Shalat Sunnah Lail artinya : Shalat-shalat
Sunnah yang dikerjakan dalam malam hari selain Ba'diyah 'Isya'.
Adapun waktunya merupakan : Sehabis shalat
'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan shalat Lail
itu boleh dikerjakan sebelum maupun sehabis tidur. jadi tidak harus dilaksanakan setelah tidur. karna bnyak yang berpendapaat bahwa klau mau sholat malam harus tidur dulu anggapan itu ternyata salaah.
Macam – macam Sholat Lail ( Sholat Malam)
Macam-macam sholat lail diantaranya adalah :
a. Shalat Sunnah Tarawih
b. Shalat Sunnah Witir.
c. Shalat Sunnah Tahajjud
d. Shalat Sunnah Iftitah.
A. Shalat Tarawih
Tarawih adalah relax, kalem, istirahat.
Ulama mengistilahkan Shalat Sunnah ini dengan
Shalat Tarawih, lantaran melihat riwayat yg mengungkapkan mengenai bagaimana
cara Nabi SAW melakukannya. Yaitu dengan perlahan-santai/relax/kalem serta
diselingi menggunakan istirahat setiap habis salam, dan kebanyakan di indonesia belum bnyak yang relax saat sholat tarwih dan kebanyakan masih cepet cepat. sholat tarwih itu rilax atau santai sebagaimana riwayat dibawah
ini:
Dari 'Aisyah RA, ucapnya :
كَانَ
رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ
فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497
===========
Adalah
Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian dia
beristirahat/bertarawih usang sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya.[HR. Baihaqi juz 2,
hal. 497]
===========
Waktu,
Bilangan & Cara Pelaksanaan shalat tarawih
===========
A.
Waktunya.
===========
Setiap
malam dalam bulan Ramadlan, boleh dikerjakan diawwal malam atau pada
pertengahan juga pada akhirnya, baik sebelum tidur juga sesudah tidur.
Tegasnya, shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadlan.
===========
عَنْ
اَبىْ ذَرّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص رَمَضَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا
شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ
اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ
اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود dua: 50، رقم: 1375
===========
Dari
Abu Dzarr, dia mengungkapkan : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW.
Beliau nir shalat (malam) bersama kami sehingga tinggal tujuh hari dari bulan
itu. Lalu dia shalat bersama kami sampai lewat sepertiga malam, lalu dia nir
shalat malam beserta kami pada malam yang keenam. Namun beliau shalat malam
bersama kami dalam malam yang ke lima hingga lewat tengah malam. [HR. Abu Dawud
juz 2, hal. 50, no. 1375]
===========
عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ
ابْنِ اْلخَطَّابِ رض لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلىَ الْمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ
اَوْزَاعٌ مُتَفَرّقُوْنَ يُصَلّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلّى الرَّجُلُ
فَيُصَلّى بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: اِنّى اَرَى لَوْ جَمَعْتُ هٰؤُلَاءِ
عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيّ
بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ
بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ اْلبِدْعَةُ هٰذِهِ، وَالَّتِى
يَنَامُوْنَ عَنْهَا اَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ اٰخِرَ
اللَّيْلِ. وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ اَوَّلَهُ. البخارى 2: 252
'===========
Dari
Abdurrahman bin Abdul Qariyyi, bahwasanya ia mengatakan, Saya pernah keluar ke
masjid bersama Umar bin Khaththab RA. Pada suatu malam pada bulan Ramadlan,
Tiba-datang kami dapati orang-orang berkelompok-grup dan terpisah-pisah, ada yg
shalat sendirian dan ada yang shalat dengan diikuti beberapa orang. Maka Umar
berkata, Saya beropini lebih baik mereka ini aku kumpulkan menggunakan diimami oleh seseorang
imamdanquot;. Kemudian Umar ber'azam & mengumpulkan mereka itu dengan
diimami sang Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar lagi beserta Umar dalam malam
yang lain, sedang orang-orang shalat menggunakan bermakmum kepada imam mereka.
Umar berkata, Sebaik-baik bid'ah adalah ini. Dan shalat yang mereka kerjakan
dalam akhir malam adalah lebih utama berdasarkan dalam yang mereka kerjakan
pada awwal malam. Sedangkan orang-orang biasa mengerjakannya pada awwal malam.
[HR. Bukhari juz 2 : 252].
===========
B.
Bilangan Raka'atnya
===========
Shalat
Sunnah Tarawih ini, sapta raka'at yg biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah
sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebesar-banyaknya tak terbatas, berapa
saja seseorang mampu melaksanakan-nya sampai habis ketika shalat sunnah
tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh.
===========
عَنْ
عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرُغَ
مِنْ صَلَاةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلّمُ
بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ، وَ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. مسلم 1: 508
===========
Dari
'Aisyah RA, dia mengungkapkan, Rasulullah SAW shalat antara beliau
terselesaikan dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara
tiap-tiap 2 rekaat, kemudian berwitir 1 rekaat. [HR. Muslim juz 1, hal. 508].
===========
عَنْ
اَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ اَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رض كَيْفَ
كَانَتْ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ ص فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُوْلُ
اللهِ ص يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ
رَكْعَةً يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ
يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّي
ثَلَاثًا. البخارى 2: 47، مسلم 1: 509
===========
Dari
Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwasanya beliau pernah bertanya pada 'Aisyah
RA, Bagaimanakah shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ?. Maka 'Aisyah
berkata, Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan juga pada luar
Ramadlan atas sebelas rekaat. Beliau shalat empat rekaat, jangan engkau tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau
shalat empat rekaat, jangan engkau tanya
bagusnya dan panjangnya. Kemudian dia shalat (witir) tiga rekaat. [HR. Bukhari
juz 2, hal. 47; Muslim juz 1, hal. 509]
===========
Keterangan
:
===========
Maksud
hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam kemudian
istirahat. Dilanjutkan lagi dua raka'at salam, dua raka'at salam lalu
istirahat. Kemudian beliau shalat witir 3 reka'at.
===========
Tetapi
hadits tersebut bukan merupakan batasan berdasarkan Nabi SAW, tetapi hanya
memberitahuakn bahwa umumnya Nabi SAW shalat malam sebelas raka'at.
===========
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ.
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ
اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1:
516
===========
Dari
Ibnu 'Umar bahwasanya terdapat seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW
mengenai shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, Shalat malam itu dua
raka'at 2 raka'at. Maka bila seorang diantara kalian risi masuk Shubuh,
hendaklah beliau shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan buat
shalat yg sudah beliau kerjakan [HR. Muslim juz 1, hal. 516]
'===========
Cara
Pelaksanaan Sholat Lail
===========
1.
Boleh dengan Jahr (bunyi nyaring) juga Sirr (suara lembut) :
===========
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: كَيْفَ كَانَ
قِرَاءَةُ النَّبِيّ ص بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذٰلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ،
رُبَمَا اَسَرَّ بِالْقِرَاءَةِ وَ رُبَمَا جَهَرَ. فَقُلْتُ: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ جَعَلَ فِى اْلاَمْرِ سَعَةً. الترمذى 1: 278، رقم: 447، و قال: هذا حديث
صحيح غريب
===========
Dari
'Abdullah bin Abu Qais, beliau menyampaikan : Aku bertanya kepada 'Aisyah RA,
Bagaimana bacaan Nabi SAW pada saat (shalat) malam ?. Jawab 'Aisyah, Semuanya
itu pernah dilakukan sang Rasulullah SAW, terkadang dia membaca sirr (pelan)
& terkadang beliau membaca jahr (nyaring). Maka saya menyampaikan, Segala
puji bagi Allah yang telah memberi kelonggaran dalam hal inidanquot;. [HR.
Tirmidzi juz 1, hal. 278, no. 447, ia berkata : Ini hadits shahih, gharib]
===========
2.
Boleh dikerjakan dengan berjama'ah maupun munfarid (sendirian)
===========
عَنْ
عَائِشَةَ اُمّ الْمُؤْمِنِيْنَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ
فِى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى مِنَ اْلقَابِلَةِ
فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ
الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ
قَالَ:قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ
اِلَيْكُمْ اِلَّا اَنّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَ ذٰلِكَ فِى
رَمَضَانَ. البخارى 2: 44
===========
Dari
'Aisyah Ummul Mu’minin
RA, bahwasanya dalam suatu malam Rasulullah SAW shalat malam dimasjid, maka
orang-orangpun turut shalat beserta dia. Kemudian beliau shalat pula pada malam
berikutnya, maka bertambah poly orang yang mengikutinya. Kemudian malam
ketiganya atau ke empatnya mereka sudah berkumpul, namun beliau nir datang.
Maka selesainya pagi harinya beliau mengungkapkan, Sungguh saya sudah
mengetahui apa yg kalian lakukan tadi malam dan saya nir berhalangan untuk tiba
pada kalian, hanyasaja saya khawatir kalau shalat itu diwajibkan atas kalian.
(Kata 'Aisyah), Kejadian tadi pada bulan Ramadlan. [HR. Bukhari juz 2, hal. 44]
===========
B.
Shalat Sunnah Tahajjud
Shalat
Sunnah Tahajjud adalah : Shalat malam yang dikerjakan di luar bulan Ramadlan.
===========
Nama
Tahajjud diambil menurut firman Allah ayat 79 surat Al-Israa' :
===========
وَ مِنَ
الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِه نَافِلَةً لَّكَ. الاسراء: 79
===========
Dan
pada sebagian malam bershalat Tahajjudlah kamu menjadi suatu tambahan bagimu.
[QS. Al-Israa' : 79]
===========
Jadi,
shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah tahajjud adalah sama. Kalau dikerjakan
pada bulan Ramadlan disebut shalat Tarawih, sedangkan jika dikerjakan pada luar
Ramadlan dianggap shalat Tahajjud.
===========
C.
Shalat Sunnah Witir
===========
Shalat
sunnah witir merupakan shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan sapta rakaat
yang ganjil (witir = gasal).
===========
عَنْ
عَلِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَا اَهْلَ اْلقُرْاٰنِ اَوْتِرُوْا
فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. ابو داود 1: 61، رقم: 1416
===========
Dari
'Ali RA, beliau menyampaikan : Rasulullah SAW bersabda, Wahai pakar Qur'an,
berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia senang pada
(shalat) witirdanquot;. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 61, no. 1416]
===========
Waktu, Kapan & cara aplikasi shalat witir'===========
A.
Waktunya :
===========
Pada
setiap malam, baik pada pada juga diluar Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal,
pertengahan, ataupun diakhir malam, baik sebelum maupun sesudah tidur,
kesemuanya itu pernah dicontohkan sang Rasulullah SAW :
===========
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ: مِنْ كُلّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنْ
اَوَّلِ اللَّيْلِ وَ اَوْسَطِهِ وَ اٰخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ
السَّحَرِ. مسلم 1: 512
===========
Dari
'Aisyah RA, beliau berkata, Dalam semua (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan
witir, pada permulaan malam, dipertengahannya, & di akhirnya, hingga
witirnya selesai dalam saat sahur. [HR. Muslim juz 1, hal. 512]
===========
عَنْ
جَابِرٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ خَافَ اَنْ لَا يَقُوْمَ مِنْ اٰخِرِ
اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَ مَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اٰخِرَهُ
فَلْيُوْتِرْ اٰخِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلَاةَ اٰخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَ
ذٰلِكَ اَفْضَلُ. مسلم 1: 520
===========
Dari
Jabir RA, ia menyampaikan, telah bersabda Rasulullah SAW, Barangsiapa khawatir
tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir dalam awwal malam.
Dan barangsiapa berkeyakinan bisa bangun pada akhir malam, maka hendaklah
mengerjakan witir dalam saat itu, karena shalat pada akhir malam itu disaksikan
dan yang demikian itu lebih utama. [HR. Muslim juz 1, hal. 520].
===========
B. Bilangan Raka'at dan Cara Pelaksanaannya Sholat Witir
1)
Satu rakaat,
===========
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ.
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ
اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.
مسلم 1: 516
===========
Dari
Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya pada Rasulullah SAW tentang
shalat malam itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, Shalat malam itu dua raka'at 2
raka'at. Maka jika seseorang diantara engkau
khawatir masuk Shubuh hendaklah shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at
itu mewitirkan buat shalat yang sudah dikerjakandanquot;. [HR. Muslim juz 1,
hal. 516]
===========
Dua)
Tiga Rakaat,
===========
Jika
melaksanakan tiga rakaat, wajib dengan
satu tasyahhud di rakaat yg terakhir, kemudian salam, sebagaimana riwayat
berikut :
===========
عَنْ
عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ
الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ
اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ
صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ
قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278
===========
Dari
'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bila selesainya shalat 'Isyak, dia masuk ke
rumah. Kemudian beliau shalat dua rekaat, lalu shalat lagi 2 reka'at yg lebih
panjang daripada dua reka'at yang pertama tersebut, lalu beliau berwitir tiga
rekaat, dan beliau nir memisahkan diantara 3 rekaat itu. Kemudian beliau shalat
lagi 2 reka'at pada keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk &
bersujud, dan dia shalat dengan duduk. [HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278]
'===========
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُوْتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يُسَلّمُ اِلَّا
فِى اٰخِرِهِنَّ. الحاكم فى المستدرك 1: 447، رقم: 1140
===========
Dari
'Aisyah, dia berkata, Dahulu Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at,
dia nir salam kecuali pada rekaat yang terakhirdanquot;. [HR. Hakim dalam
Al-Mustadrak juz 1 hal. 447, no. 1140].
===========
عَنْ
سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ لَا
يُسَلّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. النسائى 3: 235
===========
Dari
Sa'ad bin Hisyam, bahwasanya 'Aisyah menceritakan kepadanya bahwasanya dahulu
Rasulullah SAW nir salam dalam 2 rekaat dalam shalat witir. [HR. Nasaiy juz 3,
hal. 235]
===========
Dan
tidak diperkenankan shalat witir yg 3 rekaat itu dengan 2 raka'at salam,
kemudian disambung menggunakan 1 rakaat kemudian salam. Hal ini menyalahi
riwayat 'Aisyah pada atas & jua menyalahi arti witir itu sendiri, lantaran
witir itu merupakan gasal, sedang 2 itu genap, jadi nir dapat dikatakan witir.
Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tadi menggunakan dua
tasyahhud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yg demikian ini dihentikan
sang Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW :
===========
لَا
تُوْتِرُوْا بِثَلَاثٍ. اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ اَوْ بِسَبْعٍ وَ لَا تُشَبّهُوْا
بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ. الدارقطنى
===========
Janganlah
kalian shalat witir tiga rekaat, (namun) shalatlah witir lima rekaat atau 7,
& janganlah kalian menyerupai menggunakan shalat Maghribdanquot;. [HR.
Daraquthniy juz 2, hal, 24].
===========
Keterangan
:
===========
Dalam
hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita shalat witir tiga rekaat dan
memerintahkan buat shalat menggunakan lima rekaat atau 7 rekaat. Sedang
hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengerjakan shalat
witir 3 rekaat. Maka dari kedua hadits tadi bisa diambil konklusi bahwa : Yang
tidak boleh mengerjakan shalat witir tiga rekaat itu merupakan shalat witir
yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir tiga rekaat yang nir serupa
menggunakan shalat Maghrib nir tidak boleh, bahkan dikerjakan sang Rasulullah
SAW.
===========
Adapun
bentuk keserupaan itu adalah : Dengan 2 tasyahhud satu salam. Maka supaya tidak
menyerupai shalat Maghrib hendaklah shalat witir tiga rekaat tersebut
dikerjakan menggunakan tiga rekaat sekaligus dengan satu tasyahhud pada akhir
rakaat dan satu salam.
===========
Tiga)
lima rekaat menggunakan satu tasyahhud pada rakaat yg terakhir lalu salam.
===========
Berdasar
riwayat menjadi berikut :
===========
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ
عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذٰلِكَ بِخَمْسٍ وَ لَا يَجْلِسُ فِى شَيْءٍ
اِلَّا فِى اٰخِرِهَا. مسلم 1: 508
===========
Dari ‘Aisyah, ia berkata, Dahulu
Rasulullah SAW shalat pada malam hari 13 rekaat, berdasarkan 13 rekaat itu
beliau shalat witir lima rekaat. Dari lima rekaat tersebut beliau tidak duduk
(attahiyat) melainkan dalam rekaat terakhirdanquot;. [HR. Muslim juz 1, hal.
508].
===========
4) 7
rekaat dengan dua tasyahhud pada rekaat 6 dan 7 lalu salam.
===========
Berdasar
riwayat menjadi berikut :
===========
عَنْ
عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص لَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ اَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ
لَا يَقْعُدُ اِلَّا فِى السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لَا يُسَلّمُ فَيُصَلّى
السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمَةً. ابن حزم فى المحلى 3: 45
'===========
Dari
Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW sehabis lanjut usia dan lemah badannya,
beliau berwitir dengan 7 rekaat & tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke
6, lalu berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yg ketujuh lalu salam
menggunakan satu kali salam. [HR. Ibnu Hazm, dalam Al-Muhalla juz 3, hal. 45].
===========
Lima)
9 rekaat menggunakan 2 tasyahhud pada rekaat yg ke 8 dan ke 9 sehabis itu
salam.
===========
Berdasar
riwayat sebagai berikut :
===========
عَنْ
سَعِيْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِ
رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ
فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَ
يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيْهَا اِلَّا فِى
الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لَا
يُسَلّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ
وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ
يُصَلّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلّمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى
عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ. مسلم 1: 513
===========
Dari
Sa’id bin
Hisyam, bahwasanya beliau bertanya pada 'Aisyah, (Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku
tentang shalat witir Rasulullah SAW. Jawab 'Aisyah, Kami biasa menyediakan
penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, kemudian beliau bangun malam
pada saat yg dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi & berwudlu
lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan dia nir duduk (attahiyat) melainkan
pada rekaat yang ke delapan, kemudian beliau menyebut, memuji & berdoa
kepada Allah, lalu dia berdiri dengan nir mengucap salam, berdiri shalat
(rekaat) yang ke sembilan, kemudian dia duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan
berdoa pada Allah, kemudian beliau mengucap salam sebagai akibatnya terdengar
oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua rekaat dengan duduk. Yang demikian itu
jadi 11 rekaat hai anakku. [HR. Muslim juz 1, hal. 513].
===========
Dan
kita tidak boleh mengerjakan 2 kali shalat witir dalam satu malam
===========
عَنْ
قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص
يَقُوْلُ: لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. الترمذى 1: 292، رقم: 468، و صححه ابن حبان
===========
Dari
Qais bin Thalq bin 'Ali, berdasarkan ayahnya, ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda, Tidak terdapat dua witir pada satu malamdanquot;. [HR.
Tirmidzi juz 1, hal. 292, no. 468, dan dishahkan oleh Ibnu Hibban].
===========
F.
Bacaan setelah shalat witir.
===========
Menurut
riwayat Nasai, Rasulullah SAW sesudah shalat witir, dia membaca Subhaanal
Malikil Qudduus tiga kali.
===========
عَنْ
قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ
اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلٰى، وَ قُلْ يٰۤاَيُّهَا
اْلكَافِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ
الْمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلَاثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى 3: 247
===========
Dari
Qatadah dari Zurarah menurut ‘Abdur
Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, umumnya dia SAW pada dalam shalat witir
membaca surat Al-A’laa,
Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah terselesaikan kemudian beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus (Maha
Suci Allah Raja yg Maha Quddus) tiga kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan
yang ketiga”. [HR.
Nasaaiy juz 3, hal. 247]
===========
Dan
dari riwayat Thabaraniy, setelah bacaan tadi ada tambahan “Rabbul malaaikati war ruuh” (Tuhan nya para Malaikat dan
Ruuh), tetapi tambahan ini nir shahih, karena pada sanadnya terdapat perawi
bernama ‘Isa
bin Yuunus, yg tidak diketahui jarh - ta’dilnya.
'===========
Adapun
bacaan “Alloohumma
innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa,
fa’fu ‘annii” itu merupakan bacaan jika
mengetahui Lailatul Qadr, sebagaimana riwayat berikut :
===========
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ
لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قَالَ: قُوْلِي: اللّٰهُمَّ
اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. الترمذى، و قَالَ: هٰذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، 5: 195، رقم: 3580
===========
Dari ‘Aisyah, ia menyampaikan : Aku
bertanya, “Ya
Rasulullah, bagaimana pendapat kamu jika saya mengetahui bahwa malam itu malam
Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau bersabda, “Bacalah Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya
Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka
memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195,
no. 3580]
===========
Lafadh
tadi jua diriwayatan oleh Ahmad juz 9 hal. 526, juz 9 hal. 547 & juz 10,
hal. 24, juga diriwayatkan sang Ibnu Majah juz dua, hal. 1265, no. 3850. Tetapi
pada ‘Aridlatul
Ahwadzi dengan lafadh :
اللّٰهُمَّ
اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. الترمذى، فى عارضة
الاحوذى، 13: 42، رقم: 3513
Ya
Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku. [HR.
Tirmidzi, dalam ‘Aridlotul
Ahwadzi juz 13, hal. 42, no. 3513]
D.
Shalat Iftitah.
===========
Shalat
Iftitah adalah shalat sunnah 2 rekaat yang ringan buat mengawali shalat lail.
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ
فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. مسلم 1: 532
Dari
Abu Hurairah, menurut Nabi SAW, beliau bersabda, Apabila seseorang diantara
kalian bangun malam, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang
ringan. [HR. Muslim juz 1, hal. 532].
Demikian
Artikel dari Kami Mengenai Sholat Lail/ Sholat Malam Semoga Bermanfaat Untuk
ada semuanya. Ingat Menuntut Ilmu itu wajib jadi perbanyaklah anda untuk mengkaji
ilmu agama.

0 Response to "MAMBAHAS SHOLAT LAIL/SHOLAT MALAM TUNTAS LENGKAP DENGAN DALIL DALILNYA"
Posting Komentar
Jika Artikel Ini Bermanfaat Silahkan Dibagikan Kepada Teman Teman Agar Pahala Anda Mengalir Sebagai Sedekah .